Tampilkan postingan dengan label Pemeriksaan Fisioterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemeriksaan Fisioterapi. Tampilkan semua postingan

Pemeriksaan Spesifik atau Tambahan dalam Menegakkan Diagnosis Fisioterapi

Pemeriksaan spesifik atau tambahan adalah pemeriksaan yang dilakukan jika informasi yang diperoleh melalui anamnesis, inspeksi dan pemeriksaan fungsi belum cukup untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit atau problematik fisioterapi terhadap penderita. Pemeriksaan spesifik dilakukan untuk mengungkap ciri khusus serta jenis gangguan dari suatu struktur atau jaringan tertentu. Yang dimaksud dalam pemeriksaan spesifik seperti, palpasi, pemeriksaan neurologis, stabilitas sendi, ROM, MMT, panjang otot, mengukur kapasitas pernapasan, pemeriksaan medis lainnya (laboratorium, dll).

a. Palpasi

Merupakan pemeriksaan khusus dengan jalan meraba dengan tangan pada struktur jaringan tertentu melalui jaringan kulit seperti, connective tissue, kulit, musculotendinogen, arthrogen, saraf, pembuluh darah dan jaringan articular lainnya.

Tujuan Palpasi
1. Untuk mengetes kelainan sensasi kulit , otot, temperature, dan kelembaban kulit
2. Untuk menentukkan letak dan perbedaan bentuk struktur jaringan yang normal dan yang tidak normal.
3. Untuk meraba ketegangan otot (tonus otot), udem dan pembuluh darah
b.Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui keadaan saraf. Beberapa bentuk pemeriksaan neurologis antara lain:
1. Animal segmental tes
a. Tes motorik, misalnya fleksi elbow untuk segmental C5-6

b. Tes sensorik, misalnya dermatom, myotom
2. Tes reflex seperti KPR, APR, Babinsky, reflex biceps dan lain-lain
3. Entrapment tes, misalnya kompresi, phalent, traksi, dll.
4. Propriosensor tes, biasanya dilakukan pada sendi
5. Electrical diagnostic
6. Membedakan bentuk benda, dua titik dan lain-lain.

c.Tes stabilitas sendi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kestabilan sendi baik dalam keadaan pasif maupun dalam keadaan aktif. Apakah sendi tersebut dalam keadaan stabil, hypomobile, atau hypermobile. Adapun cara melakukan pemeriksaan tersebut antara lain:
1. Untuk gerakan pasif : Traksi translasi dan stress tes (gapping tes), Posisi sendi dalam keadaan LPP, jika tidak stabil disebut pasif instabilitas
2. Untuk gerakan aktif: Posisi sendi LPP, penderita melakukan gerakan isometric dan melawan tahanan dari segala arah yang diberikan oleh pemeriksa atau dengan menggunakan berat tubuh penderita sendiri. Jika tida stabil disebut aktif instabil.

d.Tes Range of Movement (ROM)
Tes ini bertujuan untuk mengetahui gerakan sendi dengan menggunakan alat bantu “Geniometer”. Dalam literature telah ditetapkan criteria normal ROM untuk masing-masing persendian, meskipun demikian variasi ROM untuk tiap individu perlu dipertimbangkan.

e.Muscle testing (MMT)
Muscle testing yang dimaksud adalah isotonic manual muscle testing. Sama seperti dengan ROM, nilai normative kekuatan otot telah tercantum didalam literature.

f.Mengukur panjang otot
Otot adalah suatu jaringan kontraktil. Kelenturan otot sangat mempengaruhi kualitas suatu gerakan. Pada tubuh ada 2 kelompok otot yaitu kelompok otot postural dan kelompok otot fasis. Otot postural banyak berfungsi untuk aktivitas yang berlangsung lama misalnya lari jarak jauh, serta memelihara postur tubuh. Kelompok otot ini cenderung memendek. Contohnya, otot rectus femoris, gastrocnemius. Sementara otot pasis cenderung terulur, untuk itu maka perlu dilakukan pengukuran panjang otot.

g.Mengukur kapasitas pernapasan
Sirkulasi O2 dan CO2 pada mekanisme pernapasan sangat penting artinya, terutama yang berhubungan dengan kondisi chest serta kapasitas fisik dan kemampuan fungsional tubuh pada umumnya. Oleh karena itu, perlu mengukur maksimal ekspirasi, insppirasi dan residual respiratory pernafasan.

h.Pemeriksaan Medis lainnya
Pemeriksaan medis lainnya berupa informasi hasil laboratorium, rontgent, pemeriksaan psikis, serta pemeriksaan medis lainnya (yang dilakukan oleh ahlinya). Hasil pemeriksaan ini sering diperlukan oleh fisioterapis untuk membantu menetapkan aktualitas penyakit dan atau problematic fisioterapi.
Setelah seluruh rangkaian assessment selesai, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan diagnosis, planning, intervention dan reevaluasi. Tanpa melupakan koordinasi, komunikasi dan dokumentasi sesuai standar praktek fisioterapi.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan umum kami.
Share Artikel

Pemeriksaan Spesifik Fisioterapi pada HIP, Lumbal dan Sacro Iliac Joint



1. Palpasi
Tujuan dilakukan palpasi adalah :
a. Untuk meraba suhu dan tenderness
b. Palpasi pada bursa iliopectinea & triangle femoralis,bursa subcutanea trochanterica di atas trochanter mayor, otot rectus femoris, m. adduktor longus, m.sartorius, m. piriformis, ligamen inguinalis.
Piriformis m.
Melalui segitiga SIPS, Coccygeus dan Great Trochanter, sepertiga tengahnya. Palpasi dalam, sejajar sacroiliac.

Gluteus medius m.
Sisi lateral dibawah iliac crest dan trochanter. Palpasi arah anteroposterior.
c. Jaringan keras : SIAS, Crista iliaca, trochanter mayor hip, sympisis ossis pubis.

2. Tes Trendelenburg
Tes ini untuk mengevaluasi kekuatan musculus gluteus medius. Berdirilah dibelakang pasien dan observasi kekakuan kecil diatas SIPS. Normalnya, saat pasien menumpu berat badan kedua kaki seimbang, lekukan kecil itu nampak sejajar. Kemudian mintalah pasien untuk berdiri satu kaki. Jika dia dapat tegak, musculus gluteus medius pada tungkai yang menyangga berkontraksi saat tungkai terangkat. Akan terlihat garis pantat turun pada kaki yang diangkat pada kelemahan pada m. gluteus minimus.

3. Tes OBER (untuk kontraksi iliotibial band )
Pasien tidur miring, abduksikan kaki sejauh mungkin dan fleksikan knee 90o sambil memegang hip joint pada posisi netral untuk merileksasikan traktus iliotibial. Kemudian lepaskan tungkai yang diabduksikan tadi, jika traktus iliotibial normal, maka paha akan tetap berposisi saat tungkai dibebaskan.

3. Tes Gapping Anterior
Pasien berbaring terlentang dan tangan pemeriksa bersilangan di SIAS. Setelah itu lakukan kompresi. Jika hasilnya positif atau terjadi nyeri maka terjadi kelainan pada sacro iliaca joint atau lig. Anterior Sacroiliaca Joint.

4. Tes Gapping Posterior
Pasien tidur miring dan tangan pemeriksa berada region pelvis. Setelah itu lakukan kompresi. Jika hasilnya positif maka terjadi kelainan sacro iliaca joint atau Ligamen. posterior sacroiliaca joint.

5. Tes Patrick (Fabere Test)
Pasien tidur terlentang dan calcaneus menyentuh patella dan tangan pemeriksa berada di SIAS dan bagian medial dari knee. Setelah itu lakukan kompresi, apabila terjadi nyeri maka ada kelainan di group adductor atau Lig. anterior hip, atau ligament Anterior Sacroiliaca Joint.
6. Tes Anti Patrick
Pasien tidur terlentang dan kaki internal rotasi. Tangan pemeriksa memegang pergelangan kaki dan bagian lateral dari knee. Setelah itu lakukan penekanan. Apabila terjadi nyeri maka terjadi kelainan pada Lig. Posterior Sacroiliaca Joint.
7. Straight Leg Raising (SLR)
Tes ini dapat dikombinasi dengan fleksi leher atau fleksi dorsal dari kaki. Apabila positif maka terjadi pengedangan pada N. ischiadicus yang mengakibatkan nyeri kejut yang amat sangat, maka kemungkinan besar bahwa ada rangsangan dari satu akar atau lebih dari L4 sampai S2.

8. Muscle Length Test
Tujuannya pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui adanya pemendekan otot yang diperiksa.
• m.Iliopsoas.
• m.rectus femoris.
• m.hamstrings.

9. Leg Length Test
Pengukuran panjang tungkai adalah pengukuran yang ditujukan pada anggota gerak bawah.
True Leg Length Discrepamcy
Tujuan: untuk mengetahui panjang tungkai.
Posisi pasien supine lying posisi pelvic diseimbangkan dengan anggota gerak bawah atau SIAS searah pada satu garis lurus dan segaris dengan anggota gerak bawah. Tungkai lurus dengan jarak 15-20 cm dari satu sama lain (jarak antara kaki).
Letakkan tungkai pasien pada posisi yang tepat dan pastikan jarak dari SIAS ke Malleolus Medialis dari Ankle (merupakan titik penentu). Perbedaan 1-1,5 cm dikategorikan normal walaupun dapat menyebabkan gejala.

10. Prone Knee Bending Test
Posisi pasien tengkurap, pemeriksa memfleksikan knee pasien sedapat mungkin dan memastikan hip pasien tidak rotasi. Jika pemeriksa tidak dapat memfleksikan knee 90˚ derajat karena ada kondisi patologis, maka tes ini dapat juga dilakukan dengan pasif ekstensi hip dengan knee fleksi sedapat mungkin. Nyeri unilateral di daerah lumbal mungkin indikasi cedera akar saraf L2 atau L3. Sedangkan nyeri di bagian depan paha indikasi m.quadriseps tegang. Tes ini juga mengulur n. femoralis. Posisi knee fleksi ini dipertahankan antara 45-60 detik.

12. Tanda Bruzinki I ( Brudzinski’s “Neck” Sign)
Pasien terlentang letakkan satu tangan pemeriksa di bawah kepala dan tangan lainnya diletakkan di atas dada pasien, lalu fleksikan kepala pasien dengan cepat semaksimal mungkin. Positif jika pada saat kepala pasien difleksikan timbul pula fleksi involunter pada kedua tungkai dan rasa tidak enak atau nyeri pada bagian leher dan punggung bawah.
13. Tanda Brudzinski II
Pasien terlentang fleksikan hip dan knee pasien. Jika pada saat gerakan tersebut dilakukan tungkai yang kontralateral ikut flesi secara involunter, maka positif. Apabila gerakan tersebut tidak terjadi, tungkai yang ipsilateral diekstensikan dan positif jika saat ekstensi tungkai yang kontralateral ikut fleksi secara involunter.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan umum kami.
Share Artikel

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI SARAF TEPI



PEMERIKSAAN SPESIFIK
KONDISI SARAF (TEPI)

By : Piphiet
D3 FISIOTERAPI STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP


PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS

A.Saraf Olfaktorius (N. I)
Pemeriksaan dilakukan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman.
Cara :
Letakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau, parfum atau rempah-rempah. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung pasien sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhirupnya bahan tersebut dan mengidentifikasikan bahan yang dihirup.

B.Saraf Optikus (N. II)
Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity), penglihatan perifer (visual field), refleks pupil, pemeriksaan fundus okuli serta tes warna.
Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity)
Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan.
1.Kartu snellen
Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel, atau dapat juga pemeriksaan dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)
2.Jari tangan
Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi jika dapat melihat pada jarak 2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60.
3.Gerakan tangan
Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/3 10.
Pemeriksaan Penglihatan Perifer
Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dari mata hingga korteks oksipitalis.
Tes Konfrontasi
Cara :
Jarak terapis – pasien : 60 – 100 cm objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut. Objek yang digunakan (2 jari terapis / ballpoint) di gerakan mulai dari sisi kanan ke kiri (lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lurus kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut.
Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu.
Refleks Pupil
Ada dua macam refleks pupil.
1.Respon cahaya langsung
Cara :
Menggunakan senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil.
2.Respon cahaya konsensual
Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama.
C.Saraf Okulomotoris (N. III)
Pemeriksaan meliputi ; Ptosis, Gerakan bola mata dan Pupil.
Ptosis
Cara :
Ptosis positif bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas secara spontan atau mengangkat alis mata secara spontan pula.
Gerakan bola mata.
Cara :
Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial, atas, dan bawah, sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi.

Pupil
Pemeriksaan pupil meliputi :
a.Bentuk dan ukuran pupil
b.Perbandingan pupil kanan dan kiri. Perbandingan sebesar 1mm masih dianggap normal.
Refleks pupil
a.Refleks cahaya langsung (bersama N. II)
b.Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N. II)
c.Refleks pupil akomodatif atau konvergensi
Cara :
Jika pasien melihat hingnya sendiri kedua kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh dan memfokuskan pandangannya pada suatu objek yang berjarak  15 cm didepan mata pasien. Hasil positif jika tidak terdapat konstriksi pada kedua pupil yang disebut reflek akomodasi.
D.Saraf Troklearis (N. IV)
Pemeriksaan meliputi :
1.gerak mata ke lateral bawah
2.strabismus konvergen
3.diplopia
E.Saraf Trigeminus (N. V)
Pemeriksaan meliputi; sensibilitas, motorik dan reflex
Sensibilitas
Ada tiga cabang sensorik, yaitu oftalmik, maksila, mandibula.
Cara :
Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain.
Mula-mula-mula menggunakan ujung jarum yang tajam. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit, pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul.
Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul diberi tanda dan pemeriksaan di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tajam menuju daerah yang terasa tumpul.
Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2.
Pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Pasien disuruh mengatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya.
Pemeriksaan temperatur tidak diperiksa secara rutin karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri,
Motorik
Cara :
Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter. Kemudian pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan terapis berusaha menutupnya. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena).
Refleks
1.Refleks kornea
a.Langsung
Cara :
Pasien diminta melirik kearah kanan atas kemudian kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri.
b.Tak langsung (konsensual)
Cara :
Sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya. Kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen).

2.Refleks bersin
Refleks masseter
Cara :
Pasien membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan terapis diketuk mendadak dengan palu refleks. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan.
F.Saraf abdusens (N. VI)
Cara :
Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral, strabismus konvergen dan diplopia tanda-tanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain.
G.Saraf fasialis (N. VII)
1.Tes kekuatan otot
a.Mengangkat alis, bandingkan kanan dan kiri.
b.Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri.
c.Memperlihatkan gigi (asimetri)
d.Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi ujung bibir)
e.meniup sekuatnya, bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing.
f.Menarik sudut mulut ke bawah.
Skala Ugo Fisch
Terdapat lima posisi pemeriksaan :
a.Posisi diam : 20 poin
b.Posisi menggerutkan dahi : 10 poin
c.Posisi menutup mata : 30 poin
d.Posisi bersiul : 10 poin
e.Posisi tersenyum : 30 poin

Empat skala penilaian
0 % : Zero, asimetri komplit, tak ada gerak volunteer
30 % : Poor, kesembuhan kearah asimetri
70 % : Fair, kesembuhan parsial kea rah simetri
100 % : Normal, simetri komplit
MMT Otot Wajah
0 : Zero, tidak ada kontraksi
1 : Trace, kontraksi minimal
3 : Fair, kontraksi, dilakukan susah payah
5 : Normal, kontraksi dan terkontrol
2. Tes sensorik khusus (pengecapan) 2/3 depan lidah)
Cara :
Pemeriksaan dengan rasa manis, pahit, asam, asin yang disentuhkan pada salah satu sisi lidah.
H.Saraf Vestibulokokhlearis (N. VIII)
Pemeriksaan pendengaran
1.Tes Rinne
Cara :
Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Dalam keadaan normal pasien masih dapt mendengar. Pada tuli saraf pasien masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif.
2.Tes Weber
Cara :
Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal.
I.Saraf glosofaringeus (N. IX) dan saraf vagus (N. X)
Nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik.
Cara :
Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spatula, tanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Hasil positif : Jika konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X, kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak, kemudian disuruh batuk, tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. IX).
J.Saraf Asesorius (N. XI)
Cara :
Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah, kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus.
K.Saraf Hipoglosus (N. XII)
Cara :
Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena).
Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar.

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI PADA SARAF TEPI
A.Tes Lhermitte
Posis pasien : Sitting
Posisi terapis: Dibelakang pasien
Cara :
Pasien duduk santai dan nyaman dengan neck mid position. Tangan terapis diatas kepala pasien (tegak lurus dengan kepala). Berikan tekanan (kompresi) pada kepala dalam berbagai posisi (fleksi, ekstensi, lateral fleksi dextra dan lateral fleksi sinistra).
Hasil :
Positif jika terdapat nyeri pada daerah leher hingga lengan akibat terjepitnya saraf Brachialis.
Dapat diberikan pada kasus Cervikal Root Syndrome.
B.Tes Distraksi
Posisi pasien : Sitting
Posisi terapis : Dibelakang pasien
Cara :
Salah satu tangan terapis berada didagu dan tangan yang lain dibelakang kepala kemudian angkat kepala pasien (distraksi).
Hasil :
Positif jika nyeri menghilang.
Dapat diberikan pada kasus Cervikal Root Syndrome.
C.Tes Finkelstein
Posisi pasien : Sitting or standing
Posis terapis : Didepan pasien
Cara :
Pasien mengepalkan tangannya, diaman ibu jari diliputi atau digenggam oleh jari-jari selanjutnya pasien atau terapis menggerakan kearah ulnar deviasi.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri didaerah radial wrist.
Dapat diberikan pada kasus De Quervain Syndrome.

D.Tes Phallen
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : Didepan pasien
Cara :
Fleksi palmar yang ditahan salah satu tangan selama 30 detik.
Hasil :
Positif jika pasien mengalami kesemutan didaerah karpal.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
E.Tes Tinnel
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : didepan pasien
Cara :
Perkusi atau penekanan n. medianus pada pergelangan tangan (posisi tangan sedikit dorsi fleksi) di daerah ligamentum tranversum dapat menimbulkan rasa nyeri atau kesemutan pada jari-jari yang dilalui oleh n. medianus.
Hasil :
Positif jika nyeri pada daerah yang dilalui n. medianus.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
F.Torniquet test
Posis pasien : Supine lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Menggunakan tensimeter cuff dipasang pada lengan atas diatas tekanan sistolik selama 1-2 menit, biasanya dipasang pada tekanan 220 mmHg. Pada tes ini akan terjadi peningkatan rasa nyeri dan semutan pada daerah distribusi n. medianus, karena bagian yang terjepit pada n. medianus di daerah carpal tunnel lebih sensitif terhadap ischemia dari pada saraf yang normal.
Hasil :
Positif bila terdapat rasa nyeri dan kesemutan didaerah n. medianus.
G.Luthy's sign (bottle's sign)
Posisi pasien : Sitting or standing
Posis terapis : didepan pasien
Cara :
Pasien diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. Hasil : Positif bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
H.Adson Tes
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : Didepan menyamping pasien
Cara :
Pasien menarik dagunya dan menengok sejauh mungkin ke satu arah dan meminta pasien menarik nafas sedalam mungkin dan terapis menekan arteri radialis.
Hasil :
Positif bila nteri pada arteri radialis.
I.Tes Eden
Posisi pasien : Standing
Posis terapis : Disamping pasien
Cara :
Berikan penekanan pada arteri radialis, kemudian traksi pada lengan atau pasien menjatuhkan badannya (badan pasien miring).
Hasil :
Positif jika pasien mersakan nyeri dan kesemutan pada arteri radialis.
J.Laseigue’s Test
Posis pasien : Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee ekstensi
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (350 – 750), bila pasien mengeluh nyeri pada pantat atau paha belakang.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
K.Bragard’s Test
Posisi pasien : Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee lurus
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (250 – 650), disertai dorsi fleksi ankle.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
L.Neri Test
Posis pasien: Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee lurus
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (250 – 650),lalu gerakan dorsi fleksi ankle disertai dengan mengangkat kepalanya (fleksi neck).
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
M.Slump Test
Posisi pasien : Sitting
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mempertahankan kepala pasien pada posisi netral, pasien diminta mengendorkan punggungnya (fleksi lumbal), kemudian beri tekanan (kompresi) pada bahu kanan kiri untuk memepertahankan posis fleksi limbal, selanjutnya pasien diminta menggerakan fleksi leher dan kepala sejauh mungkin, (kemudian terapis mempertahankan posisi maksimal fleksi vertebra tersebut dengan memberi tekanan pada kepala bagian belakang, terapis menahan kaki pasien pada maksimal dorsi fleksi, pasien diminta meluruskan (ekstensi) lututnya, jika pasien tidak mampu meluruskan lututnya (karena nyeri), tekanan pada kepala dipindah ke bahu kanan kiri.
Hasil :
Bila saat tekanan pada kepala dipindah ke bahu pasien, mampu menambah gerakan ekstensi lutut atau nyeri berkurang, berarti tes positif.
N.Sitting Root Test
Tes ini merupakan modifikasi dari slump test
Posisi pasien : Sitting dengan hip fleksi 900 , leher fleksi
Cara :
Aktif ekstensi lutut.
Hasil :
Bila nyeri terasa di pantat, paha belakang dan betis berarti terdapat penekanan syaraf Isciadikus.
O.Brudzinski-Kernig Test
Posisi pasien : Supine lying dengan kedua tangan di belakang kepala
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Aktif fleksi neck diikuti dengan fleksi hip (dengan knee lurus) kemudian fleksi knee.
Hasil :
Bila saat hip di fleksikan (denagn lutut lurus) nyeri terasa kemudian saat lutut difleksikan nyeri hilang berarti tes positif
P.Prone Knee Bending (PKB/Nachlas) Test
Posisi pasien : Prone lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis memfleksikan lutut pasien sejauh mungkin (jangan sampai terjadi gerak rotasi hip) dan menahannya ada posisi maksimal fleksi sekitar 45-60 detik
Hasil :
Bila nyeri pada punngung bawah, pantat atau paha belakang berarti terjadi penekanan akar syaraf L2 atau L3.
Q.Naffziger’s Test
Posisi pasien : Standing
Posisi terapis : Dibelakang pasien
Cara :
Terapis menekan pada kedua vena jugularis dan menyuruh pasien mengejan atau batuk.
Hasil :
Bila saat batuk terasa nyeri pada punggung bawah berarti tes positif.
R.Tes Patrick
Posisi pasien : Supine lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Tempatkan maleolus lateralis tungkai yang terkena pada lutut yang sehat dan terapis memberikan penekanan pada knee yang difleksikan.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri pada daerah panggul.
S.Tes Contra Patric
Posis pasien : Supine lying
Posisi terapis : disamping pasien
Cara :
Fleksi dan endorotasikan tungkai yang sakit serta gerakan adduksi kemudian terapis member penekanan sejenak pada knee.
Hasil :
Positif bila pasien nyeri didaerah garis sendi sakroiliaka.
T.Tes Gaenslen
Posisi pasien : Supine lying dengan kedua knee fleksi
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Pasien supine lying dengan kedua knee fleksi. Kemudian pasien diminta menggantungkan tungkai yang berada ditepi bed.
Hasil :
Positif bila nyeri terasa disendi sakroiliaka ipsilateral pada saat tungkai itu dilepaskan untuk bergantung di tepi bed.

DAFTAR PUSAKA
Sidharta, Priguna dan Mahar Mardjono. 2008. NEUROLOGI KLINIS DASAR. Jakarta: Dian Rakyat.
Bates, Barbara. 1995. PEMERIKSAAN FISIK & RIWAYAT KESEHATAN. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
De Wolf dan Mens. 1990. PEMERIKSAAN ALAT PENGGERAK TUBUH. Deurne-Antwerpen.A.N de Wolf.
Konin, Jeff G, dkk. 1997. SPECIAL TEST FOR ORTHOPEDIC EXAMINATION. GroveRoad: SLAC Incorporated.
http://www.perdossijaya.org/perdossijaya/index.php?option=com_content&view=article&id=76:neuropati-entrapmen-pada-ekstremitas-atas&catid=45:artikel&Itemid=63
http://www.fisiosby.com/index.php?option=com_content&task=view&id=9&Itemid=7
http://72.14.235.132/search?q=cache:fFDGdeifBXgJ:library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-aldi2.pdf+phalen+test&cd=6&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://cetrione.blogspot.com/2008/05/entrapment-neuropati.html
http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Atas.html
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan umum kami.
Share Artikel

Popular Posts